JGTC UI 2007

November 19th, 2007

Fiuh, benar-benar melelahkan hari minggu ini. Saya baru saja kembali dari acara Jazz Goes to Campus ke 30 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kesannya? Penuh sesak! Benar-benar membuat lemas badan karena sulit bernafas. Menonton konser pun jadi tidak nyaman.

Dari artis yang tampil patut juga diacungi jempol. Walaupun sebagian besar artis masih dari dalam negeri, tapi mereka tetap mencoba menghadirkan artis dari luar negeri. Walaupun tak satu pun artis dari luar yang saya tonton tadi. Susah sekali ternyata untuk mendapatkan tempat, bahkan hanya untuk sekedar melihat berdiri saja.

Salah satu grup band yang tampil, ParkDrive, benar-benar membuat penonton terpukau. Meskipun mereka sudah tiga kali tampil di acara yang sama dengan lagu-lagu yang sama dari album pertama, mereka mencoba menghadirkan sesuatu pengalaman yang berbeda untuk penonton. Mereka mengaransemen ulang kembali lagu-lagu yang akan mereka bawakan. Hasilnya ternyata sangat bagus dan lebih nge-groove dan soulful berkat kekuatan vokal Olive Latuputty yang…. speechless. Luar biasa.

Satu lagi artis yang kebetulan sempat saya tonton penampilannya adalah Andezzz, sang dedengkot electronic jazz/nu jazz di Indonesia. Selepas dari Sova, dia membentuk sendiri grup [departure:people] dan menelurkan satu album bernuansa soulful house.

Penampilan mereka di JGTC tadi cukup bagus. Andezzz membawa serta tiga vokalisnya yang seksi-seksi dan hot ditambah satu featuring artist bernama Cindy Bernadette. Sayangnya sedikit ada kejadian yang kurang mengenakkan. Seorang penonton yang mencoba berdansa sendirian di tengah kerumunan penonton (yang semuanya lagi duduk manis) terkena lemparan botol minuman masal (berjama’ah) karena dianggap mengganggu pandangan orang yang sedang menonton penampilan artis utama. Duh kasihan….

Semoga di JGTC tahun depan ada sedikit tempat duduk, sedikit penerangan, dan sedikit tong sampah ditambah sedikit WC yang bersih. Saya hanya mengharap sedikit karena memang harganya cukup murah untuk acara kebanggaan anak FEUI ini.  Untuk masalah desak-desakan menurut saya wajar, harga memang menentukan apa yang akan anda dapatkan. :)


Supir Taksi

November 7th, 2007

Hari ini sekali lagi saya mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Sebelumnya pengalaman tersebut dialami bersama seorang pengemudi bajaj. Tapi kali ini kejadian menarik dialami dengan seorang supir taksi.

Sepulang kuliah, saya berniat untuk membeli tiket pertunjukan JakJazz di daerah Pejompongan. Kebetulan ada potongan harga khusus untuk mahasiswa (student ticket), jadinya saya tentu saja tidak melewatkan kesempatan emas ini. Kapan lagi bisa nonton konser musik Jazz murah meriah (selain JGTC tentunya).

Tapi perjalanan menuju Pejompongan benar-benar dilalui dengan penuh perjuangan. Begitu keluar dari kampus Anggrek Binus, jalanan sedang macet parah. Mencari taksi yang kosong benar-benar susah. Banyak taksi bersliweran tetapi selalu ada penumpangnya.

Setelah berjalan kaki sebentar menghindari kemacetan, akhirnya taksi yang ditunggu-tunggu datang setelah menunggu selama satu jam. Lumayan, hitung-hitung jalan kaki untuk kesehatan jantung.

Di dalam taksi, saya asyik berbincang-bincang dengan pak supir yang bernama Tugiono. Dia bercerita bahwa dia berasal dari Semarang. Dia sendiri datang ke Jakarta dengan tujuan untuk mencari nafkah.

Beliau mengatakan betapa keras dan susahnya hidup di Jakarta. Sehari-hari dia harus memberi setoran sebesar Rp.200.000 kepada pemilik taksi ditambah mengeluarkan uang bensin sendiri sebesar Rp.150.000. Rata-rata pendapatan harian yang dia terima hanya sekitar Rp.400.000. Jadi setelah dikurangi setoran dan biaya bahan bakar dia hanya mendapatkan Rp.50.000 setiap hari.

Untuk menghemat pengeluaran dia terpaksa harus makan sehari sekali. Tetapi dia tetap mencoba bertahan menjalani pekerjaan tersebut, yang boleh dibilang cukup membuat batin tertekan. Bayangkan jalanan di Jakarta yang selalu macet ditambah lagi para pengguna kendaraan lain yang seringkali bertindak seenaknya sendiri.

Ketika melewati daerah Petamburan, tiba-tiba seorang supir mikrolet yang lewat berpapasan memberikan aba-aba bahwa ban belakang taksi ternyata sudah kempes. Setelah diperiksa ditemukan sebuah paku yang cukup panjang menembus ban tersebut. Entah siapa yang tega menyebarkan paku tersebut di jalanan.

Di tengah jalanan yang macet, mau tidak mau taksi terpaksa dipinggirkan untuk mengganti ban. Dengan cekatan beliau mengambil ban cadangan dan mengganti ban di tengah kemacetan lalu lintas. Orang-orang yang kebetulan melintas memperhatikan kami berdua menjadi biang kemacetan di tengah arus lalu lintas yang memang sudah macet.

Ban yang kempes tersebut merupakan tanggungan dari sang supir. Dia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menambal ban tersebut, dengan uangnya sendiri.

Jelas sekali, perusahaan taksi yang memperkerjakannya benar-benar tidak memperhatikan kondisi karyawannya. Rasanya perlakuan yang diberikan sangat tidak etis. Demi memaksimalkan keuntungan karyawan dipaksa bekerja keras tanpa memperdulikan kondisi fisik dan mental mereka.

Bagaimana ya nasib Tugiono-Tugiono yang lain?


Gagal Datang ke Acara Ubuntu GRP Jakarta

November 3rd, 2007

 

Rencananya hari ini ada niat datang ke acara Ubuntu GRP di Papa Rons Warung Buncit Jaksel. Gutsy Release Party (GRP) sendiri adalah acara peluncuran versi terbaru dari Ubuntu yaitu Ubuntu 7.10 dengan codename Gutsy Gibbon.

Tapi ternyata jadwal kuliah bentrok dengan acara tersebut, jadinya tidak bisa datang. Padahal pasti akan menyenangkan sekali bertemu dengan sesama pengguna Ubuntu, salah satu distro Linux yang sedang naik daun belakangan ini. Bertemu dengan sesama geek, tentu menyenangkan.

Salah satu teman yang hadir, Aldi, melaporkan langsung dari lokasi bahwa makanan yang disajikan enak-enak. Duh, jadi nyesel berat nggak dateng.


My New Gutsy Gibbon’s Desktop Look

October 29th, 2007

Screenshot


Supir Bajaj

October 8th, 2007

Malam ini benar-benar memberikan pengalaman yang boleh dibilang cukup mind blowing. Semua ini karena seorang supir bajaj. Gara-gara supir bajaj? Yup, benar-benar pelajaran berharga dari seorang supir bajaj. Sungguh membuat diri terkesima.
Setelah lelah melakukan brainstorming ria mengenai proyek website di kantor teman saya di bilangan Tanjung Duren, saya pun berniat untuk pulang ke kost. Maklum sudah jam 11 malam, jadinya susah untuk mencari angkutan umum. Kebetulan ada bajaj yang sedang nangkring di pinggir jalan. Dilihat dari luar kelihatan bajaj tersebut ditinggal pemiliknya. Tapi begitu menengok ke dalam, ternyata ada supir bajaj sedang tidur di dalam kabin bajajnya yang ekstra sempit sambil, dikerubuti nyamuk!!

Kaget bukan kepalang tentunya. Bagaimana seseorang bisa tertidur dengan pulasnya di tempat yang sangat sempit dan di tengah serangan kawanan nyamuk berjumlah kurang lebih 20 sampai 50 ekor sementara itu disekelilingnya  kendaraan berlalu lalang dengan berisiknya. Salut bercampur sedih. Salut karena supir bajaj tersebut benar-benar pekerja keras. Demi anak istri di rumah bekerja banting tulang pun dilakoni. Sedih, kenapa kenyataan hidup itu begitu pahit.

Begitu saya bangunkan, pak supir langsung bersiap menghidupkan bajaj-nya. Nyamuk yang mengerubuti dia sebelumnya memang ganas. Gigitan mereka benar-benar tajam. Saya sempat merasakannya untuk beberapa saat. Nyamuk-nyamuk tersebut tidak lantas angkat kaki begitu saja ketika ada orang di dalam. Malah mereka seolah tidak peduli dengan tepukan dan kibasan tangan. Dasar nyamuk edan!

Selama di perjalanan menuju kost tentunya harus melewati jembatan yang menanjak. Tapi ternyata mesin bajaj tidak sanggup untuk melakukan manuver mendaki ketika ditunggangi dua orang. Terpaksa harus didorong secara manual dari belakang. Ah, asyik juga mendorong bajaj di tengah malam sambil menghirup udara bercampur asap knalpot. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.

Perjalanan berlanjut. Brmm brmm brmm (atau vroom vroom kata orang bule). Di tengah perjalanan, kembali terkejut melihat kondisi yang memprihatinkan. Kali ini pekerja yang sedang memperbaiki jalan sedang tidur di pinggir jalan yang sedang dikerjakannya dengan beralaskan aspal. “Wah, benar-benar keras ternyata kehidupan di Jakarta,” pikir saya.

Syukurlah akhirnya bajaj tiba dengan selamat sampai pada tujuan. Setelah membayar dan berbasa-basi sejenak, akhirnya sang supir bajaj pun melanjutkan perjalanannya. Mungkin saja dia pulang atau malah melanjutkan tidurnya di pinggir jalan sambil dikerubuti nyamuk.

Kabarnya bajaj juga mau disingkirkan dari kota Jakarta karena penyebab polusi dan kemacetan lalu lintas. Terpikir oleh saya entah bagaimana nasib supir bajaj seperti supir bajaj yang baru saja saya tumpangi. Sudah hidup susah masih saja ada yang tega mau menyingkirkan mereka.

Pemerintah kota harus memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang diakibatkan oleh bajaj ini. Mungkin dengan memberi kredit yang sangat ringan untuk kendaraan yang lebih ramah lingkungan kepada mereka atau malah mengganti bajaj mereka dengan kendaraan baru yang menggunakan bahan bakar gas misalnya.

Yah, semoga nasib para supir bajaj tersebut dapat berubah menjadi lebih baik dan bisa hidup lebih layak. Siapa bilang mereka pemalas, mereka benar-benar pekerja keras.


This Is How A Computer Should Be

October 5th, 2007

imackeyboard_4_20070807.jpg

Pretty neat, isn’t it?


Pelayanan Kesehatan di Indonesia

October 4th, 2007

Melihat acara Terapi Sehat di TVRI, menyadarkan saya bahwa masyarakat Indonesia sangat membutuhkan pelayanan kesehatan (healthcare) yang berkualitas. Dalam siaran langsung tersebut, seorang sinshe dibantu dua orang presenter membawakan acara dimana pemirsa televisi dapat menelepon dan berkonsultasi langsung secara interaktif.

Kita tahu sendiri kalau sinshe bukanlah keluaran dari fakultas kedokteran. Tidak ada program kedokteran yang ditujukan untuk mencetak sinshe. Mereka melakukan praktek pengobatan semata-mata karena pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan seiring waktu berjalan. Tidak ada proses formal dalam menjadi seorang sinshe.

Tapi toh masyarakat tidak peduli. Mereka rela melakukan apa saja demi mendapat kesehatan. Menyadari biaya kesehatan di Indonesia yang sangat mahal dan penuh dengan malpraktek, solusi alternatif pun jadi pilihan. Mereka hanya ingin sehat, terlepas pengobatan itu sesuai dengan kaidah baku ilmu medis atau tidak.

Banyak masyarakat yang dikecewakan oleh sistem pelayanan kesehatan nasional. Mahalnya biaya seolah-olah membuat kesehatan hanya berhak dinikmati oleh orang yang memiliki banyak uang. Biaya yang mahal tersebut anehnya seringkali tidak diikuti dengan layanan yang baik. Malpraktek seringkali terjadi. Pasien pun seringkali bersikap pasrah dengan tidak melakukan tuntutan hukum sama sekali. Kepasrahan mereka sebenarnya cukup beralasan karena mereka juga mengerti bagaimana bobroknya sistem peradilan di Indonesia.

Banyak sekali yang harus diperbaiki untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Salah satunya adalah mengubah paradigma berpikir untuk menjadi seorang dokter. Banyak orang berniat menjadi dokter untuk memperoleh kekayaan dan kehormatan. Ketika mereka memutuskan untuk menjalani proses tersebut, ternyata apa yang mereka alami tidak semudah yang dibayangkan. Banyak proses berat yang harus dilalui. Mulai dari durasi belajar yang sangat lama, belum lagi harus praktek ke daerah-daerah terpencil. Setelah itu harus membuka praktek dan melanjutkan sekolah lagi untuk mengambil spesialisasi. Benar-benar jalan yang sangat panjang dan berliku untuk mendapatkan kekayaan.

Untuk itu, pemikiran dan niat awal dalam menjadi seorang dokter harus dirubah. Menjadi dokter berarti menjadi pelayan kesehatan. Ya, menjadi “pelayan”. Seorang dokter harus mempunyai niat yang tulus dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Mereka yang berniat menjadi dokter haruslah karena panggilan hati untuk menolong orang lain. Tanpa dorongan dari hal tersebut, pilihan menjadi dokter akan menjadi mimpi buruk bagi yang menjalankannya.

Mengenai sikap melayani, mungkin artikel dari Boy Avianto bisa menjelaskan kenapa masyarakat Indonesia kurang mampu memberi pelayanan yang baik.


Kasur Angkasa Pramugari

October 4th, 2007

Selama bertugas melayani penumpang, pramugari tentunya juga butuh istirahat. Maskapai penerbangan umumnya juga memikirkan sarana untuk keperluan tersebut. Akan tetapi bentuk sarana akomodasi udara yang disediakan maskapai penerbangan untuk para pegawainya ternyata sangat bervariasi. Kebetulan saya menemukan sebuah tautan yang menurut saya sangat menggelitik.

Singapore Airlines sangat memperhatikan kondisi karyawan mereka dengan sangat baik. Hal ini bisa dilihat dari kasur atau tempat tidur yang mereka sediakan.

a55.jpg

Bagaimana dengan maskapai penerbangan Indonesia? Melihat foto ini sungguh membuat hati miris. Sangat memprihatinkan.

a77.jpg

Menurut informasi dari sang pemilik blog pramugari dalam foto tersebut adalah pramugari maskapai penerbangan Indonesia Airlines, yang sudah lama gulung tikar dari bisnis jasa penerbangan. Mudah-mudahan si Mbak sudah mendapatkan maskapai penerbangan baru yang lebih layak dalam memperlakukan karyawannya.


Pentingnya Standarisasi Web

October 3rd, 2007

Setelah membaca FAQ dari Web Standart Projects, saya baru menyadari bahwa standarisasi dari website itu sangatlah penting. Saya baru tersadar ternyata banyak pihak yang memiliki kepentingan dalam menggunakan world wide web.

Orang mengakses web dengan menggunakan berbagai macam perangkat mulai dari ponsel, komputer, televisi, kios informasi, dan sebagainya. Perbedaan terhadap perangkat tentu membuat desain akhir dari website berbeda juga. Idealnya adalah sebuah website dapat ditampilkan dengan layak pada semua bentuk media. Pada ponsel misalnya, website harus mengikuti standar yang baku agar mampu ditampilkan dengan baik pada layar monitor komputer maupun pada layar mini dari ponsel.

Salah satu faktor penting dalam mengikuti standar adalah faktor aksesibilitas. Halaman web ternyata tidak hanya sekedar dilihat, melainkan juga “didengarkan”. Maksud dari istilah tersebut adalah banyak orang yang memiliki masalah dengan penglihatannya lebih memilih untuk “mendengarkan” informasi dari sebuah website dengan bantuan program speech narrator. Jika web yang dirancang tidak memenuhi standar, maka program tersebut tentunya akan kesulitan dalam membaca informasi dari halaman web. Situs web yang dirancang perlu mengikuti standar agar mampu mendukung aksesibilitas bagi jenis pengguna tertentu.

Kemudian adalah masalah kompabilitas. Kita tentunya dapat merancang sebuah web dengan menggunakan teknologi terbaru yang membuat tampilan halaman web semakin menarik dan meningkatkan fungsionalitas. Tetapi kita juga harus mempertimbangkan audiens yang akan mengakses website tersebut. Tidak semua orang di belahan dunia ini yang cukup beruntung untuk selalu dapat menggunakan komputer dengan teknologi terbaru. Malah sebenarnya masih banyak komputer yang hanya mampu menampilkan halaman web berbasis teks. Untuk itu penting sekali bagi para perancang maupun programmer web untuk mengikuti standar dalam mengembangkan sebuah website.

Banyak keuntungan yang bisa didapat dari mengikuti standarisasi website, salah satunya adalah mempermudah mesin pencari (search engine) dalam mendokumentasikan informasi dari website tersebut. Kemudian tentunya akan memperluas jangkauan audiens yang mampu mengakses website. Bisa dibayangkan sendiri implikasi dari kedua hal tersebut. Website akan semakin sering muncul pada layar mesin pencari, semua jenis pengunjung website dapat menggunakannya dan pada akhirnya meningkatkan nilai manfaat dari website tersebut.

Jadi, mari membangun website yang sesuai standar!


LCD Monitor, Investasi yang Menguntungkan?

October 1st, 2007

Sejak mengganti monitor CRT tua 17″ dengan monitor berlayar LCD 19″ beberapa waktu yang lalu, tampaknya mulai kelihatan banyak sekali perbedaan mencolok diantara keduanya. Faktor pertama adalah kenyamanan di mata. Memelototi layar CRT 17″ secara terus-menerus seringkali membuat kepala pusing dan mata perih. Hal ini cukup mengganggu karena sering merusak konsentrasi ketika bekerja. Tetapi apa yang ditawarkan oleh layar LCD sungguh pengalaman yang berbeda. Sejak siang kemarin sampai pagi ini saya masih terus betah di depan layar sambil blogwalking, chatting, kronologging, blogging, membaca artikel, mendengarkan last.fm, download lagu, dan kegiatan lainnya. Mungkin gara-gara kopi yang diminum saat buka puasa kemarin membuat mata terus melek. Hal ini tentu sangat jarang terjadi jika menggunakan monitor CRT.

Yang saya tahu adalah monitor CRT memiliki tingkat radiasi yang lebih tinggi dibandingkan LCD. Belum lagi refresh rate yang cenderung rendah pada monitor CRT. Mungkin faktor yang membuat mata cepat lelah adalah berasal dari pantulan tabung kaca CRT yang memang membuat fokus mata harus bekerja lebih keras dalam melihat pantulan cahaya atau fokus ke layar. Hal demikian tidak terjadi pada monitor LCD, dengan catatan monitor LCD tersebut memiliki lapisan matte, bukan glossy. Teknologi LCD juga menggunakan daya yang jauh lebih hemat dibandingkan CRT dan lebih ringkas bentuk fisiknya.
Read the rest of this entry »