“Kaya itu relatif…”
April 17th, 2008“…miskin itu absolut.”
…very cruel, indeed.
just a few rambling words…
Coba mainkan scale berikut ini di keyboard atau gitar :
C-Eb-F-Gb-G-Bb-C
Berimprovisasilah! Rasakan keajaibannya!

Port HTTP dan FTP dibuka ![]()
Sayang harganya cukup mahal!
Hitungan per jam sekitar Rp. 3500 per jam. Untuk pemakaian satu hari penuh atau 24 jam dikenakan biaya hampir sekitar Rp.150.000 per 24 jam.
Tadi malam baru saja pulang dari Bandung. Banyak pengalaman baru yang mengesankan. Kota Bandung benar-benar jauh berbeda dibandingkan Jakarta. Cuacanya lebih bersahabat dan udaranya sejuk. Benar-benar tempat yang menyenangkan.
Yang lebih menyenangkan lagi kami tidak perlu keluar biaya untuk penginapan. Untungnya ada saudara yang berbaik hati mengizinkan kami untuk menginap di rumah mereka. Rumahnya sendiri berlokasi di Lembang.
Di dalam rumah ada studio mini lengkap dengan instrumennya. Kami pun sering tak tahan untuk bermain-main dengan instrumen tersebut, terlebih lagi dengan sound module Roland yang punya sound bank segudang.
Adik saya, Dayat, ternyata ada janji untuk bertemu teman-temannya di Common Room. Tempat ini menurut Gustav sang pendirinya ditujukan untuk membangun jaringan komunitas media artists. Di tempat tersebut mereka bisa saling bertukar pikiran, berdiskusi, yang mungkin saja berlanjut menjadi mengerjakan project bersama, dan banyak kemungkinan lainnya.
Saya jadi tertarik untuk ikut dengan dia karena teman yang akan dijumpainya adalah seorang programmer dan software developer independen bernama Jaromil, yang salah satu karyanya adalah sebuah distro Linux bernama dyne:bolic, sebuah distro khusus yang ditujukan untuk para media artists.
Pertemuan itu sendiri berlangsung menyenangkan. Kami banyak membahas hal-hal menarik terutama perihal peristiwa meninggalnya beberapa pengunjung sebuah konser underground di Bandung. Wacana yang muncul akibat kejadian tersebut adalah dilarangnya konser musik underground untuk kembali diadakan, sebuah hal yang menurut Gustav merupakan kesimpulan yang salah, karena penyebab meninggalnya korban lebih banyak disebabkan mismanagement panitia acara.
Gustav juga mengemukakan perihal creative economy, yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi kota Bandung belakangan ini. Menurut Gustav pemerintah sendiri terlambat menyadari hal tersebut. Banyak sekali tenaga-tenaga kreatif yang memulai tanpa bantuan dukungan maupun fasilitas apapun, tapi toh mereka tetap bisa maju terus dalam berkarya.
Kebetulan juga dalam pertemuan itu hadir Michael Sheridan, seorang filmmaker yang berspesialisasi pada video documentary dan video installation. Dia sendiri sedang mengajar di ITB (sebagai dosen tamu, mungkin?). Orangnya sangat pintar. Banyak sekali topik menarik yang didiskusikan mulai dari pandangan politik dia sebagai seorang US citizens, perihal futurist yang dia anggap sebagai escapist, dan banyak diskusi menarik lainnya. Dia juga mengkritik consumerism, yang memang menemukan tempat idealnya di negara dunia ketiga, terutama di Indonesia.
Banyak sekali yang ingin dituliskan sebenarnya, mungkin akan dilanjutkan di bagian berikutnya.
Fiuh, benar-benar melelahkan hari minggu ini. Saya baru saja kembali dari acara Jazz Goes to Campus ke 30 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kesannya? Penuh sesak! Benar-benar membuat lemas badan karena sulit bernafas. Menonton konser pun jadi tidak nyaman.
Dari artis yang tampil patut juga diacungi jempol. Walaupun sebagian besar artis masih dari dalam negeri, tapi mereka tetap mencoba menghadirkan artis dari luar negeri. Walaupun tak satu pun artis dari luar yang saya tonton tadi. Susah sekali ternyata untuk mendapatkan tempat, bahkan hanya untuk sekedar melihat berdiri saja.
Salah satu grup band yang tampil, ParkDrive, benar-benar membuat penonton terpukau. Meskipun mereka sudah tiga kali tampil di acara yang sama dengan lagu-lagu yang sama dari album pertama, mereka mencoba menghadirkan sesuatu pengalaman yang berbeda untuk penonton. Mereka mengaransemen ulang kembali lagu-lagu yang akan mereka bawakan. Hasilnya ternyata sangat bagus dan lebih nge-groove dan soulful berkat kekuatan vokal Olive Latuputty yang…. speechless. Luar biasa.
Satu lagi artis yang kebetulan sempat saya tonton penampilannya adalah Andezzz, sang dedengkot electronic jazz/nu jazz di Indonesia. Selepas dari Sova, dia membentuk sendiri grup [departure:people] dan menelurkan satu album bernuansa soulful house.
Penampilan mereka di JGTC tadi cukup bagus. Andezzz membawa serta tiga vokalisnya yang seksi-seksi dan hot ditambah satu featuring artist bernama Cindy Bernadette. Sayangnya sedikit ada kejadian yang kurang mengenakkan. Seorang penonton yang mencoba berdansa sendirian di tengah kerumunan penonton (yang semuanya lagi duduk manis) terkena lemparan botol minuman masal (berjama’ah) karena dianggap mengganggu pandangan orang yang sedang menonton penampilan artis utama. Duh kasihan….
Semoga di JGTC tahun depan ada sedikit tempat duduk, sedikit penerangan, dan sedikit tong sampah ditambah sedikit WC yang bersih. Saya hanya mengharap sedikit karena memang harganya cukup murah untuk acara kebanggaan anak FEUI ini. Untuk masalah desak-desakan menurut saya wajar, harga memang menentukan apa yang akan anda dapatkan. ![]()
Hari ini sekali lagi saya mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Sebelumnya pengalaman tersebut dialami bersama seorang pengemudi bajaj. Tapi kali ini kejadian menarik dialami dengan seorang supir taksi.
Sepulang kuliah, saya berniat untuk membeli tiket pertunjukan JakJazz di daerah Pejompongan. Kebetulan ada potongan harga khusus untuk mahasiswa (student ticket), jadinya saya tentu saja tidak melewatkan kesempatan emas ini. Kapan lagi bisa nonton konser musik Jazz murah meriah (selain JGTC tentunya).
Tapi perjalanan menuju Pejompongan benar-benar dilalui dengan penuh perjuangan. Begitu keluar dari kampus Anggrek Binus, jalanan sedang macet parah. Mencari taksi yang kosong benar-benar susah. Banyak taksi bersliweran tetapi selalu ada penumpangnya.
Setelah berjalan kaki sebentar menghindari kemacetan, akhirnya taksi yang ditunggu-tunggu datang setelah menunggu selama satu jam. Lumayan, hitung-hitung jalan kaki untuk kesehatan jantung.
Di dalam taksi, saya asyik berbincang-bincang dengan pak supir yang bernama Tugiono. Dia bercerita bahwa dia berasal dari Semarang. Dia sendiri datang ke Jakarta dengan tujuan untuk mencari nafkah.
Beliau mengatakan betapa keras dan susahnya hidup di Jakarta. Sehari-hari dia harus memberi setoran sebesar Rp.200.000 kepada pemilik taksi ditambah mengeluarkan uang bensin sendiri sebesar Rp.150.000. Rata-rata pendapatan harian yang dia terima hanya sekitar Rp.400.000. Jadi setelah dikurangi setoran dan biaya bahan bakar dia hanya mendapatkan Rp.50.000 setiap hari.
Untuk menghemat pengeluaran dia terpaksa harus makan sehari sekali. Tetapi dia tetap mencoba bertahan menjalani pekerjaan tersebut, yang boleh dibilang cukup membuat batin tertekan. Bayangkan jalanan di Jakarta yang selalu macet ditambah lagi para pengguna kendaraan lain yang seringkali bertindak seenaknya sendiri.
Ketika melewati daerah Petamburan, tiba-tiba seorang supir mikrolet yang lewat berpapasan memberikan aba-aba bahwa ban belakang taksi ternyata sudah kempes. Setelah diperiksa ditemukan sebuah paku yang cukup panjang menembus ban tersebut. Entah siapa yang tega menyebarkan paku tersebut di jalanan.
Di tengah jalanan yang macet, mau tidak mau taksi terpaksa dipinggirkan untuk mengganti ban. Dengan cekatan beliau mengambil ban cadangan dan mengganti ban di tengah kemacetan lalu lintas. Orang-orang yang kebetulan melintas memperhatikan kami berdua menjadi biang kemacetan di tengah arus lalu lintas yang memang sudah macet.
Ban yang kempes tersebut merupakan tanggungan dari sang supir. Dia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menambal ban tersebut, dengan uangnya sendiri.
Jelas sekali, perusahaan taksi yang memperkerjakannya benar-benar tidak memperhatikan kondisi karyawannya. Rasanya perlakuan yang diberikan sangat tidak etis. Demi memaksimalkan keuntungan karyawan dipaksa bekerja keras tanpa memperdulikan kondisi fisik dan mental mereka.
Bagaimana ya nasib Tugiono-Tugiono yang lain?