Dua Malam di Bandung
February 19th, 2008Tadi malam baru saja pulang dari Bandung. Banyak pengalaman baru yang mengesankan. Kota Bandung benar-benar jauh berbeda dibandingkan Jakarta. Cuacanya lebih bersahabat dan udaranya sejuk. Benar-benar tempat yang menyenangkan.
Yang lebih menyenangkan lagi kami tidak perlu keluar biaya untuk penginapan. Untungnya ada saudara yang berbaik hati mengizinkan kami untuk menginap di rumah mereka. Rumahnya sendiri berlokasi di Lembang.
Di dalam rumah ada studio mini lengkap dengan instrumennya. Kami pun sering tak tahan untuk bermain-main dengan instrumen tersebut, terlebih lagi dengan sound module Roland yang punya sound bank segudang.
Adik saya, Dayat, ternyata ada janji untuk bertemu teman-temannya di Common Room. Tempat ini menurut Gustav sang pendirinya ditujukan untuk membangun jaringan komunitas media artists. Di tempat tersebut mereka bisa saling bertukar pikiran, berdiskusi, yang mungkin saja berlanjut menjadi mengerjakan project bersama, dan banyak kemungkinan lainnya.
Saya jadi tertarik untuk ikut dengan dia karena teman yang akan dijumpainya adalah seorang programmer dan software developer independen bernama Jaromil, yang salah satu karyanya adalah sebuah distro Linux bernama dyne:bolic, sebuah distro khusus yang ditujukan untuk para media artists.
Pertemuan itu sendiri berlangsung menyenangkan. Kami banyak membahas hal-hal menarik terutama perihal peristiwa meninggalnya beberapa pengunjung sebuah konser underground di Bandung. Wacana yang muncul akibat kejadian tersebut adalah dilarangnya konser musik underground untuk kembali diadakan, sebuah hal yang menurut Gustav merupakan kesimpulan yang salah, karena penyebab meninggalnya korban lebih banyak disebabkan mismanagement panitia acara.
Gustav juga mengemukakan perihal creative economy, yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi kota Bandung belakangan ini. Menurut Gustav pemerintah sendiri terlambat menyadari hal tersebut. Banyak sekali tenaga-tenaga kreatif yang memulai tanpa bantuan dukungan maupun fasilitas apapun, tapi toh mereka tetap bisa maju terus dalam berkarya.
Kebetulan juga dalam pertemuan itu hadir Michael Sheridan, seorang filmmaker yang berspesialisasi pada video documentary dan video installation. Dia sendiri sedang mengajar di ITB (sebagai dosen tamu, mungkin?). Orangnya sangat pintar. Banyak sekali topik menarik yang didiskusikan mulai dari pandangan politik dia sebagai seorang US citizens, perihal futurist yang dia anggap sebagai escapist, dan banyak diskusi menarik lainnya. Dia juga mengkritik consumerism, yang memang menemukan tempat idealnya di negara dunia ketiga, terutama di Indonesia.
Banyak sekali yang ingin dituliskan sebenarnya, mungkin akan dilanjutkan di bagian berikutnya.
February 26th, 2008 at 12:00 am
blog gw juga sepi.. so kita saling komen aja ya… paling gak ada yang kasi komen (abis baca komen di priyadi) wkakakaka
February 26th, 2008 at 4:17 am
Sep2 hahahaha