Supir Taksi
November 7th, 2007Hari ini sekali lagi saya mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Sebelumnya pengalaman tersebut dialami bersama seorang pengemudi bajaj. Tapi kali ini kejadian menarik dialami dengan seorang supir taksi.
Sepulang kuliah, saya berniat untuk membeli tiket pertunjukan JakJazz di daerah Pejompongan. Kebetulan ada potongan harga khusus untuk mahasiswa (student ticket), jadinya saya tentu saja tidak melewatkan kesempatan emas ini. Kapan lagi bisa nonton konser musik Jazz murah meriah (selain JGTC tentunya).
Tapi perjalanan menuju Pejompongan benar-benar dilalui dengan penuh perjuangan. Begitu keluar dari kampus Anggrek Binus, jalanan sedang macet parah. Mencari taksi yang kosong benar-benar susah. Banyak taksi bersliweran tetapi selalu ada penumpangnya.
Setelah berjalan kaki sebentar menghindari kemacetan, akhirnya taksi yang ditunggu-tunggu datang setelah menunggu selama satu jam. Lumayan, hitung-hitung jalan kaki untuk kesehatan jantung.
Di dalam taksi, saya asyik berbincang-bincang dengan pak supir yang bernama Tugiono. Dia bercerita bahwa dia berasal dari Semarang. Dia sendiri datang ke Jakarta dengan tujuan untuk mencari nafkah.
Beliau mengatakan betapa keras dan susahnya hidup di Jakarta. Sehari-hari dia harus memberi setoran sebesar Rp.200.000 kepada pemilik taksi ditambah mengeluarkan uang bensin sendiri sebesar Rp.150.000. Rata-rata pendapatan harian yang dia terima hanya sekitar Rp.400.000. Jadi setelah dikurangi setoran dan biaya bahan bakar dia hanya mendapatkan Rp.50.000 setiap hari.
Untuk menghemat pengeluaran dia terpaksa harus makan sehari sekali. Tetapi dia tetap mencoba bertahan menjalani pekerjaan tersebut, yang boleh dibilang cukup membuat batin tertekan. Bayangkan jalanan di Jakarta yang selalu macet ditambah lagi para pengguna kendaraan lain yang seringkali bertindak seenaknya sendiri.
Ketika melewati daerah Petamburan, tiba-tiba seorang supir mikrolet yang lewat berpapasan memberikan aba-aba bahwa ban belakang taksi ternyata sudah kempes. Setelah diperiksa ditemukan sebuah paku yang cukup panjang menembus ban tersebut. Entah siapa yang tega menyebarkan paku tersebut di jalanan.
Di tengah jalanan yang macet, mau tidak mau taksi terpaksa dipinggirkan untuk mengganti ban. Dengan cekatan beliau mengambil ban cadangan dan mengganti ban di tengah kemacetan lalu lintas. Orang-orang yang kebetulan melintas memperhatikan kami berdua menjadi biang kemacetan di tengah arus lalu lintas yang memang sudah macet.
Ban yang kempes tersebut merupakan tanggungan dari sang supir. Dia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menambal ban tersebut, dengan uangnya sendiri.
Jelas sekali, perusahaan taksi yang memperkerjakannya benar-benar tidak memperhatikan kondisi karyawannya. Rasanya perlakuan yang diberikan sangat tidak etis. Demi memaksimalkan keuntungan karyawan dipaksa bekerja keras tanpa memperdulikan kondisi fisik dan mental mereka.
Bagaimana ya nasib Tugiono-Tugiono yang lain?
November 14th, 2007 at 10:38 pm
gile juga tuh penjahat paku. udah susah tambah susah. mudah2an ada perhatian lebih dari pengusaha taksii!
November 16th, 2007 at 7:31 pm
Jadi kalimat “Jakarta itu KEJAM” merupakan fakta yang benar - benar terjadi ya…