Supir Bajaj
October 8th, 2007Malam ini benar-benar memberikan pengalaman yang boleh dibilang cukup mind blowing. Semua ini karena seorang supir bajaj. Gara-gara supir bajaj? Yup, benar-benar pelajaran berharga dari seorang supir bajaj. Sungguh membuat diri terkesima.
Setelah lelah melakukan brainstorming ria mengenai proyek website di kantor teman saya di bilangan Tanjung Duren, saya pun berniat untuk pulang ke kost. Maklum sudah jam 11 malam, jadinya susah untuk mencari angkutan umum. Kebetulan ada bajaj yang sedang nangkring di pinggir jalan. Dilihat dari luar kelihatan bajaj tersebut ditinggal pemiliknya. Tapi begitu menengok ke dalam, ternyata ada supir bajaj sedang tidur di dalam kabin bajajnya yang ekstra sempit sambil, dikerubuti nyamuk!!
Kaget bukan kepalang tentunya. Bagaimana seseorang bisa tertidur dengan pulasnya di tempat yang sangat sempit dan di tengah serangan kawanan nyamuk berjumlah kurang lebih 20 sampai 50 ekor sementara itu disekelilingnya kendaraan berlalu lalang dengan berisiknya. Salut bercampur sedih. Salut karena supir bajaj tersebut benar-benar pekerja keras. Demi anak istri di rumah bekerja banting tulang pun dilakoni. Sedih, kenapa kenyataan hidup itu begitu pahit.
Begitu saya bangunkan, pak supir langsung bersiap menghidupkan bajaj-nya. Nyamuk yang mengerubuti dia sebelumnya memang ganas. Gigitan mereka benar-benar tajam. Saya sempat merasakannya untuk beberapa saat. Nyamuk-nyamuk tersebut tidak lantas angkat kaki begitu saja ketika ada orang di dalam. Malah mereka seolah tidak peduli dengan tepukan dan kibasan tangan. Dasar nyamuk edan!
Selama di perjalanan menuju kost tentunya harus melewati jembatan yang menanjak. Tapi ternyata mesin bajaj tidak sanggup untuk melakukan manuver mendaki ketika ditunggangi dua orang. Terpaksa harus didorong secara manual dari belakang. Ah, asyik juga mendorong bajaj di tengah malam sambil menghirup udara bercampur asap knalpot. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.
Perjalanan berlanjut. Brmm brmm brmm (atau vroom vroom kata orang bule). Di tengah perjalanan, kembali terkejut melihat kondisi yang memprihatinkan. Kali ini pekerja yang sedang memperbaiki jalan sedang tidur di pinggir jalan yang sedang dikerjakannya dengan beralaskan aspal. “Wah, benar-benar keras ternyata kehidupan di Jakarta,” pikir saya.
Syukurlah akhirnya bajaj tiba dengan selamat sampai pada tujuan. Setelah membayar dan berbasa-basi sejenak, akhirnya sang supir bajaj pun melanjutkan perjalanannya. Mungkin saja dia pulang atau malah melanjutkan tidurnya di pinggir jalan sambil dikerubuti nyamuk.
Kabarnya bajaj juga mau disingkirkan dari kota Jakarta karena penyebab polusi dan kemacetan lalu lintas. Terpikir oleh saya entah bagaimana nasib supir bajaj seperti supir bajaj yang baru saja saya tumpangi. Sudah hidup susah masih saja ada yang tega mau menyingkirkan mereka.
Pemerintah kota harus memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang diakibatkan oleh bajaj ini. Mungkin dengan memberi kredit yang sangat ringan untuk kendaraan yang lebih ramah lingkungan kepada mereka atau malah mengganti bajaj mereka dengan kendaraan baru yang menggunakan bahan bakar gas misalnya.
Yah, semoga nasib para supir bajaj tersebut dapat berubah menjadi lebih baik dan bisa hidup lebih layak. Siapa bilang mereka pemalas, mereka benar-benar pekerja keras.