Minah oh Minah!
September 12th, 2007Lagi-lagi masyarakat resah oleh minah. Siapa gerangan si Minah ini? Ya, ini cuma singkatan asal dari minyak tanah. Untuk orang yang taraf hidupnya menengah ke atas mungkin tidak langsung merasakan dampak dari kisruh minyak tanah belakangan ini. Tapi melihat keadaan masyarakat golongan bawah, sungguh sangat memprihatinkan. Antrian untuk membeli minyak tanah sepertinya terjadi hampir serentak di seluruh Indonesia.

Awal masalah bermula dari niat pemerintah untuk melakukan penghematan subsidi. Pemerintah memiliki rencana yang boleh dibilang cukup bagus, mengganti minyak tanah dengan gas yang dikemas dengan tabung yang lebih kecil. Pemerintah bahkan membagikan kompor gas secara gratis kepada masyarakat yang kurang mampu. Dengan ini diharapkan masyarakat mulai terbiasa memakai gas sebagai bahan bakar untuk masak. Selain karena lebih murah (karena Indonesia memang kaya akan gas alam), bahan bakar gas tentunya lebih bersih dari polusi dan lebih ringkas pemakaiannya.
Tapi sepertinya pemerintah kurang mengenal rakyatnya sendiri. Dalam situasi peralihan, harusnya suplai dari minyak tanah tidak boleh langsung di cut-off begitu saja. Masyarakat sepertinya masih kaget dalam periode transisi ini. Edukasi yang diberikan oleh pemerintah nampaknya tidak mampu menjangkau hampir seluruh (atau setidaknya sebagian besar) masyarakat pengguna minyak tanah. Akibatnya masih banyak yang enggan memakai kompor gas dan lebih memilih menggunakan kompor minyak tanah. Kekhawatiran masyarakat akan kompor gas yang dianggap tidak aman seharusnya mampu diatasi dengan edukasi yang efektif. Sayangnya edukasi yang diberikan oleh pemerintah kesannya seperti setengah-setengah. Walaupun kita tahu pendidikan di Indonesia memang amburadul.
Akibatnya terjadi antrian minyak tanah dimana-mana. Harga minyak tanah pun melambung tinggi akibat hukum supply & demand. Si Minah ternyata masih dianggap solusi jitu dibandingkan gas. Padahal kita tahu sendiri melalui analisa dan hitung-hitungan minyak tanah tidak seefisien gas. Tapi apakah argumen tersebut bisa kita gunakan untuk masyarakat kita yang memang pada umumnya kurang berpendidikan? Bagi mereka dengan uang Rp.4000 bisa membeli minyak tanah seliter untuk pemakaian seminggu jauh lebih baik dibandingkan dengan harus membeli tabung gas seharga Rp.12.000 untuk pemakaian satu bulan. Karena mereka bisa membeli secara eceran. Jangan coba-coba sanggah mereka dengan teori biaya rata-rata. Tidak akan ada gunanya.
September 24th, 2007 at 11:35 am
betul betul…so change management for citizenz is very complicated ya…rencana pemerintah sih bagus, cuma cara pendekatannya boleh di bilang belum bisa memasyarakat. ya mo apa dikata kalo pendidikan negara kita masih kurang.