Jazz dan Demokrasi

September 6th, 2007

image courtesy of milesdavis.com

Jazz, apapun bentuknya selalu dikonotasikan dengan musik yang rumit dan memerlukan tingkat keahlian bermusik yang tinggi untuk memainkannya. Terkadang musik Jazz terdengar begitu mellow seperti membawa pendengarnya menuju perasaan terdalam yang sedang dirasakan oleh musisi yang sedang membawakannya. Jazz lahir dari komunitas kulit hitam Amerika yang pada era tersebut masyarakat kulit hitam merupakan minoritas yang selalu ditindas dan ditekan. Berawal dari ragtime dan blues, yang merupakan genre asli yang berasal dari komunitas kulit hitam, menjelma sebuah genre baru bernama Jazz.

Dalam sejarahnya sendiri Jazz tidak terlepas dari pengaruh musik blues dan musik klasik yang mewakili dua hal yang berlawanan, yaitu “hitam” dan “putih”. Boleh dibilang perpaduan antara dua jenis musik yang kontras tersebut menghasilkan sebuah fusion yang sangat menarik. Blues mewakili “nada-nada biru” atau blue note sedangkan klasik mewakili segala kerumitan teknik dalam bermusik. Jazz sendiri memiliki keunikan dari gabungan kedua hal tersebut, yaitu improvisasi. Bahkan porsi untuk berimprovisasi merupakan porsi terbesar dalam memainkan musik Jazz.

Improvisasi inilah yang seolah mempertanyakan kekakuan yang dimiliki oleh musik klasik. Hal ini bisa dirunut kembali pada era kelahiran musik klasik. Musik yang lahir di eropa ini muncul disaat eropa masih dikuasai pemerintahan yang monarki absolut dan terkadang juga dikuasai oleh diktator. Memainkan musik klasik berarti tidak boleh lepas dari standar baku partitur yang sudah tertulis. Semua harus dimainkan dengan sempurna tanpa berbeda sedikit pun baik itu nada, harmoni, melodi, aksen, interval nada, tempo, dan sebagainya.

Menjawab kekakuan itu, musik Jazz menawarkan ruang kebebasan yang tidak terbatas untuk berimprovisasi sembari tetap menggunakan kemampuan teknik yang tinggi. Hal itu tentunya menarik perhatian banyak musisi klasik yang mungkin sedikit jenuh dengan kekakuan musik klasik. Contoh para musisi klasik yang juga terkenal sebagai musisi Jazz yaitu George Gershwin, Art Tatum, Herbie Hancock, dan lain sebagainya. Mereka seolah menemukan kebebasan yang selama ini mereka cari dalam berkarya.

Dari hal tersebut kita mungkin dapat memetik sebuah kesimpulan. Jazz ternyata mempromosikan nilai-nilai demokrasi, konsep yang dianut banyak pemerintahan di dunia sekarang ini. Datanglah ke sebuah festival jazz dan perhatikan bagaimana setiap anggota dari band tersebut diberi kesempatan beberapa saat untuk melakukan solo dalam memainkan instrumen. Selagi anggota yang sedang melakukan solo instrumental tersebut unjuk gigi anggota band yang lain dengan sabar mengiringi permainan solo tersebut. Setiap anggota juga diberi kesempatan untuk melakukan solo. Dalam melakukan solo instrumental sendiri masing-masing anggota bebas melakukan improvisasi apa saja tanpa terikat oleh partitur tertulis. Semua terjadi secara langsung dan spontan. Mirip dengan konsep demokrasi bukan? Setiap anggota masyarakat haruslah didengar pendapatnya. Dan setiap anggota masyarakat dalam demokrasi memiliki hak untuk bersuara dan bebas dalam berpendapat tanpa adanya tekanan dari pihak manapun.

Hal ini mungkin tidak terlepas dari hasrat masyarakat kulit hitam, sebagai inkubator Jazz, untuk meraih kebebasan sejati. Mereka mengeluarkan jeritan dan rintihan penderitaan mereka lewat musik dan seni. Di kalangan masyarakat kulit hitam musik sendiri merupakan media untuk bercerita atau storytelling kepada kerabat atau keluarga. Apa yang mereka ceritakan lewat dialog dalam bermusik adalah penderitaan dan kesedihan yang mendalam akibat perbudakan, segregasi rasial, penindasan, dan bentuk-bentuk pelanggaran hak asasi manusia lainnya.

Hasrat terpendam untuk meraih kebebasan dan pengakuan sebagai manusia yang sama dan sejajar oleh masyarakat akhirnya diekspresikan dalam bentuk musik dan seni sebagai media yang paling memungkinkan untuk mengekspresikan spirit kebebasan tersebut.

Sehingga lahirlah Jazz, musik yang kita bisa kita nikmati bersama saat ini.

Leave a Reply