Classic Rock Music : Revisited

September 30th, 2007

Sudah lama sekali rasanya tidak mendengarkan musik rock. Salah satu artikel dari Pak Budi akhirnya membuat perasaan deja vu itu muncul kembali. Teringat kembali masa-masa SMP dan SMA ketika sedang gandrung-gandrungnya mendengarkan Genesis, Deep Purple, Led Zeppelin, Emerson Lake & Palmer, sampai Queen dan the Beatles. Teringat kembali gaharnya gebukan drum John Bonham, urakannya Ritchie Blackmore, teknik mumpuni seorang Keith Emerson (yang selalu setia membawa serta synthesizer raksasanya setiap kali manggung), sampai kematangan komposisi lagu dari Queen dan the Beatles.

Musik rock memang penuh kejutan dan tantangan. Di satu sisi musik rock juga mewakili kebebasan berekspresi tetapi berbarengan juga dengan unsur maskulinitas, gahar istilahnya. Bahkan musik blues yang penuh rintihan bisa terlihat gahar ketika dileburkan dengan rock, sama halnya ketika rock menjadi penuh kerumitan ketika dileburkan dengan jazz (yang kita kenal kemudian dengan nama fusion). Rock yang bercikal bakal dari rock n roll itu memang musik favorit sepanjang masa.

Menarik juga jika melihat perkembangan musik rock di era sekarang ini. Banyak yang bilang idealisme sejati rock di era sekarang ini hampir punah. Banyak juga yang berpendapat era musik Rock adalah sekitar tahun 70′an. Tidak bisa dipungkiri memang kelahiran band-band yang merupakan pengusung rock sejati muncul di sekitar era tersebut. Tapi pendapat tersebut sepertinya masih bisa dipertanyakan, terbukti dengan banyaknya band pengusung musik rock yang boleh dibilang “masih idealis” yang eksis sampai sekarang.

Lucunya, ada kecenderungan musisi rock yang “tobat” dari gaya hidup rock yang serba bebas dan urakan memilih jazz sebagai pelabuhan terakhir, walaupun mungkin tidak semua. Hal ini saya amati dari para jagoan rock seperti om Benny Likumahuwa, Donny Suhendra, I Wayan Balawan, Harry Toledo, Bernard Be2n, dan masih banyak lagi. Sepertinya setelah bosan berteriak-teriak memang lebih cocok rasanya kalau memainkan musik yang lebih calm, tanpa mengorbankan virtuosity dan kebebasan berekspresi tentunya. Untuk itu sepertinya memang jazz menjadi pilihan tepat. Tetapi musisi rock yang tetap berjiwa muda agaknya tidak semuanya setuju dengan pendapat ini. Walaupun termakan usia, tetapi semangat bermusik tetap membara. Musik rock benar-benar memberi spirit yang luar biasa bagi mereka. Untuk urusan pindah jalur bermusik, mungkin itu hanya persoalan jalan hidup kali ya. Yang pasti bagi mereka, music it’s a way of life. Dengan musik mereka hidup, dengan musik juga mereka mencari penghidupan. Dan kita harus berterima kasih atas dedikasi yang mereka berikan untuk perkembangan musik di Indonesia.

Leave a Reply